M スターバースト速報
// kuliner sains

Ikan Tenggiri di Jepang: Sawara, Budaya, dan Manfaat Kesehatannya

By Amelia Brooks

Ada ikan yang sudah ratusan tahun hadir di meja makan orang Jepang - begitu melekat dalam budaya mereka hingga memiliki nama tersendiri yang berbeda sama sekali dari sebutan umumnya di dunia. Ikan itu adalah tenggiri. Di Jepang, ikan ini bukan sekadar lauk biasa. Ia adalah bagian dari identitas kuliner, simbol musim, dan sumber gizi yang dipercaya turun-temurun.

Ikan tenggiri sawara khas Jepang

Apa Nama Ikan Tenggiri di Jepang?

Bagi masyarakat Asia Tenggara, ikan tenggiri adalah nama yang sudah sangat akrab. Tapi begitu menyebrang ke Jepang, ikan ini berganti nama menjadi sawara (鰆). Di Jepang, ikan tenggiri sering dihidangkan dalam makanan sushi dengan nama sawara. Nama ini bukan sekadar label kuliner - ia juga mencerminkan betapa dalamnya ikan ini tertanam dalam kesadaran budaya Jepang.

Sawara termasuk dalam famili Scombridae dengan nama ilmiah Scomberomorus niphonius. Ukuran maksimumnya pernah tercatat mencapai 100 cm dengan berat 10,57 kg. Sebuah ikan yang memang tidak kecil, dan rasa dagingnya yang padat serta kaya lemak alami membuatnya sangat dihargai di pasar ikan Jepang.

Selain sawara, Jepang juga mengenal kelompok ikan makarel yang lebih luas, disebut saba (鯖). Dalam perairan dekat Jepang, terdapat setidaknya empat spesies makarel yang dikenal, yaitu Masaba (真鯖), Gomasaba, Gurukuma, dan Nijousaba. Namun dalam konteks tenggiri sejati, sawara tetap menjadi primadona tersendiri - berbeda kelas dari saba biasa.

Sebaran Ikan Tenggiri di Perairan Jepang dan Asia Timur

Tenggiri bukan ikan yang berdiam di satu tempat. Sifatnya yang pelagis membuatnya terus bergerak mengikuti arus dan suhu laut. Ikan tenggiri tersebar di perairan Indo-Pasifik yang membentang dari pantai timur India dan Sri Lanka, hingga meluas ke landas benua Asia, Sumatera, Korea, dan Teluk Wakasa di laut Jepang.

Makarel dan tenggiri adalah ikan pelagis yang umumnya hidup jauh di laut lepas, meski beberapa jenisnya bisa didapati di perairan teluk yang tak jauh dari pantai. Jenis-jenis ikan ini tersebar di berbagai lautan tropis dan ugahari. Perpaduan arus dingin dan hangat di sekitar kepulauan Jepang menciptakan kondisi ideal bagi ikan tenggiri untuk tumbuh dengan baik dan mengandung lemak yang tinggi.

Jepang merupakan negara kedua dalam urutan pemanen terbesar ikan jenis tenggiri, dengan kemampuan memanen sekitar 56.000 ton per tahunnya. Angka ini bukan angka kecil. Ia mencerminkan betapa seriusnya industri perikanan Jepang dalam mengelola sumber daya laut ini, dan seberapa besar permintaan domestik terhadap ikan yang satu ini.

Pasar ikan Jepang dengan tenggiri segar

Jenis-Jenis Tenggiri yang Dikenal di Jepang

Tidak semua tenggiri sama. Di bawah payung famili Scombridae, ada beragam spesies yang sering dikategorikan bersama dalam perdagangan ikan Jepang. Yang paling dikenal masyarakat luas adalah:

Scomberomorus niphonius (Sawara/Tenggiri Jepang): Termasuk dalam famili Scombridae, ukuran maksimumnya tercatat 100 cm dengan berat 10,57 kg, dan diakui sebagai ikan yang populer di industri perikanan Asia Timur. Inilah yang paling banyak dikonsumsi dalam bentuk sushi dan masakan tradisional Jepang.

Scomber japonicus (Makarel Pasifik/Gomasaba): Scomber japonicus dikenal sebagai makerel pasifik dan termasuk dalam famili Scombridae. Di Jepang, spesies ini dijual dalam volume besar dan sering diolah dengan cara pengasinan atau diasap untuk dikirim ke berbagai penjuru negeri.

Scomber scombrus (Makarel Atlantik/Saba Norwegia): Makarel Atlantik atau yang populer disebut saba Norwegia tidak hidup di perairan dekat Jepang, namun produk beku dari Norwegia diimpor dan dijual luas di pasar Jepang. Menariknya, popularitasnya sangat tinggi karena kandungan lemaknya yang tebal dan cita rasanya yang kaya.

Tenggiri dalam Kuliner Jepang: Lebih dari Sekadar Lauk

Hubungan orang Jepang dengan ikan tenggiri bukan baru dimulai kemarin. Catatan sejarah menunjukkan bahwa budaya konsumsi ikan makarel di Jepang sudah berlangsung sejak zaman Jomon - ribuan tahun sebelum Masehi. Saba telah lama menjadi bagian dari meja makan Jepang; kaya rasa dan nilai gizi, serta sudah mendukung kesehatan dan budaya pangan selama berabad-abad.

Cara pengolahannya pun sangat beragam. Saba dapat diolah menjadi berbagai hidangan seperti shioyaki (panggang garam), shimesaba (saba rendam cuka), nitsuke (rebus kecap), misoni (rebus miso), furai (goreng tepung), tataki, nanban-zuke, dan berbagai variasi masakan lainnya. Setiap metode menonjolkan dimensi rasa yang berbeda dari ikan yang sama.

Sawara - si tenggiri Jepang - memiliki tempat khusus di meja makan musim dingin dan musim semi. Di Jepang, tenggiri juga sering disajikan dalam masakan sushi dengan nama sawara, dan kehadirannya di atas nampan sushi kelas atas bukan hal yang langka. Dagingnya yang putih bersih dengan aroma laut yang halus menjadikannya pilihan ideal untuk sashimi dan nigiri sushi.

Sushi sawara tenggiri Jepang premium

Musim Terbaik Menikmati Tenggiri di Jepang

Orang Jepang sangat menghargai konsep shun (旬) - musim panen terbaik suatu bahan makanan. Bagi saba dan sawara, waktu ini sangat spesifik. Musim terbaik saba di Jepang terjadi dua kali setahun: pertama pada Mei hingga Juni saat musim pemijahan, dan kedua pada Oktober hingga November saat kandungan lemak mencapai puncaknya dan rasanya paling lezat.

Saba yang ditangkap di musim gugur - dikenal sebagai aki-saba - dianggap sebagai yang terbaik. Lemaknya tebal, dagingnya padat, dan rasanya jauh lebih kaya dibanding yang ditangkap di musim panas. Ini bukan sekadar selera, tapi juga berkaitan langsung dengan siklus biologis ikan yang sedang mempersiapkan diri menghadapi musim dingin dengan menumpuk cadangan lemak.

Kandungan Nutrisi Ikan Tenggiri yang Mengagumkan

Satu hal yang membuat ikan tenggiri begitu dihargai - baik di Jepang maupun di seluruh dunia - adalah profil nutrisinya yang luar biasa padat. Bukan hanya soal rasa. Ikan tenggiri kaya akan omega-3, vitamin, dan mineral yang baik untuk tubuh, mendukung fungsi otak, membantu menurunkan kadar trigliserida, membantu penyerapan kalsium, mendukung kesehatan jantung, tinggi protein, dan memiliki sumber omega-3 yang melimpah.

Sebanyak 100 gram ikan tenggiri mengandung sekitar 19,3 gram protein, 6,3 gram lemak, serta sejumlah vitamin dan mineral penting untuk tubuh. Angka protein ini sangat kompetitif dibandingkan sumber protein hewani lain, termasuk daging merah. Yang lebih penting, lemak yang terkandung adalah lemak baik - bukan lemak jenuh biasa.

Di dalam tiap 100 gram tenggiri terkandung sekitar 2.670 miligram omega-3. Kandungan ini menjadikannya salah satu sumber asam lemak esensial terkaya dari laut. DHA, salah satu komponen utama omega-3 dalam ikan tenggiri, adalah asam lemak struktural esensial untuk perkembangan dan fungsi otak. Konsumsi DHA yang cukup penting untuk menjaga integritas membran sel saraf, memfasilitasi komunikasi antar sel otak, dan mendukung pembentukan sinapsis yang sehat - yang berdampak positif pada memori, konsentrasi, dan kemampuan belajar.

Ikan tenggiri juga mengandung enzim Q10 dalam jumlah yang signifikan, yang memiliki efek antioksidan dan dapat mengurangi risiko kanker serta meningkatkan kekebalan tubuh. Tak hanya itu, kandungan vitamin D dan selenium dalam ikan tenggiri juga berperan penting dalam mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh; vitamin D membantu tubuh melawan infeksi, sementara selenium adalah mineral esensial yang bertindak sebagai antioksidan dan terlibat dalam produksi sel-sel kekebalan.

Manfaat omega-3 ikan tenggiri untuk kesehatan

Manfaat Kesehatan Tenggiri yang Didukung Penelitian

Penelitian ilmiah modern semakin memvalidasi apa yang sudah dipraktikkan orang Jepang selama berabad-abad. Asam lemak omega-3, termasuk DHA dan EPA dalam ikan tenggiri, dapat membantu mengurangi tingkat kematian akibat penyakit kardiovaskular, menjadikan konsumsi rutin ikan berlemak sebagai rekomendasi standar dalam banyak panduan gizi klinis global.

Penelitian menunjukkan bahwa individu yang rutin mengonsumsi ikan berlemak cenderung memiliki volume materi abu-abu yang lebih besar di area otak yang mengontrol memori dan emosi - ini bukan sekadar mitos bahwa makan ikan membuat seseorang lebih cerdas, karena ada mekanisme biologis kuat yang mendasarinya.

Ikan tenggiri juga dapat membantu mencegah anemia karena mengandung zat besi, vitamin B12, dan beberapa folat. Kombinasi nutrisi ini sangat relevan bagi masyarakat modern yang banyak mengalami defisiensi zat besi, khususnya perempuan usia produktif dan ibu hamil.

Cara memasak juga menentukan seberapa besar manfaat yang bisa didapat. Menggoreng terlalu kering dengan suhu tinggi dan minyak berlebih dapat merusak kandungan omega-3 yang sensitif terhadap panas, sehingga metode kukus atau panggang lebih disarankan karena lebih efektif dalam menjaga kadar nutrisi dan vitamin dalam daging ikan.

Ikan Tenggiri dalam Perdagangan dan Industri Perikanan Jepang

Di balik piring sushi yang elegan dan mangkok miso yang mengepul, ada industri besar yang bekerja keras. Jepang bukan hanya konsumen tenggiri terbesar - ia juga produsen serius. Jepang merupakan negara kedua dalam peringkat pemanen ikan jenis tenggiri terbesar, dengan kemampuan memanen sekitar 56.000 ton per tahun.

Namun menariknya, Jepang juga mengimpor dalam volume besar. Saba Atlantik atau saba Norwegia tidak hidup di perairan dekat Jepang, namun produk bekunya diimpor dari Norwegia dan mendominasi sekitar 70 persen penjualan saba di supermarket Jepang pada tahun 2018. Ini menunjukkan permintaan domestik yang jauh melampaui kapasitas tangkap lokal.

Makarel dan tenggiri adalah ikan yang memiliki nilai komersial yang solid, dan dalam pasar Jepang, nilai komersial itu jauh lebih tinggi dari sekadar "sedang". Sawara berkualitas tinggi bisa dijual dengan harga premium di pasar ikan kelas atas seperti Toyosu di Tokyo, bersaing dengan ikan-ikan mahal lainnya seperti flounder dan sea bream.

Tenggiri dan Budaya Pangan Jepang yang Berkelanjutan

Jepang menghadapi tantangan yang sama dengan negara-negara perikanan lain di dunia: bagaimana menjaga stok ikan tenggiri tetap lestari di tengah permintaan yang tidak pernah surut. Regulasi kuota tangkap, pengembangan teknologi akuakultur, dan kampanye kesadaran konsumen menjadi tiga pilar utama yang terus diupayakan pemerintah dan industri perikanan Jepang.

Saba - dan tenggiri dalam kaitannya - adalah ikan yang menghubungkan banyak pihak: nelayan, pedagang, koki, dan konsumen. Menjaga keberlangsungan rantai ini berarti menjaga tradisi pangan yang sudah diwariskan selama generasi. Dalam konteks itulah upaya pelestarian bukan sekadar kepentingan ekologi, tapi juga warisan budaya.

Perikanan berkelanjutan ikan tenggiri di Jepang

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Hubungan Jepang dengan Tenggiri?

Cara Jepang memperlakukan ikan tenggiri - dari laut hingga ke meja makan - adalah pelajaran panjang tentang penghargaan terhadap bahan pangan. Mereka tidak hanya memakannya. Mereka memahami musimnya, menghormati cara pengolahannya, dan terus meneliti manfaat kesehatannya secara ilmiah.

Bagi kita yang berada di Asia Tenggara, ikan tenggiri adalah bahan makanan yang sangat mudah dijangkau. Ikan tenggiri dikenal sebagai bahan makanan bergizi yang mudah ditemui dan sering menjadi berbagai jenis masakan khas - rasanya yang gurih menjadikannya pilihan menu keluarga yang tidak hanya lezat, tetapi juga menyehatkan. Harga yang relatif terjangkau tidak berarti nilai gizinya rendah. Justru sebaliknya.

Ikan tenggiri memiliki kandungan gizi yang tinggi, bahkan hampir menyamai ikan tuna dan salmon. Kandungan omega-3 dan vitamin B12 di dalamnya sangat membantu pemenuhan nutrisi harian, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Jadi, baik dimakan dalam bentuk sushi sawara ala Jepang, digoreng dengan bumbu kunyit, atau dibuat menjadi pempek dan otak-otak, tenggiri tetaplah ikan luar biasa yang layak mendapat tempat lebih besar di piring makan kita.

Dari perairan laut Jepang hingga ke meja makan di seluruh Asia, ikan tenggiri terus membuktikan dirinya sebagai salah satu hadiah terbaik dari laut - bergizi, lezat, dan kaya sejarah yang tidak akan habis dimakan zaman.